[Juara 3 Kompetisi Blog Artikel CONVEY 2020] Toleransi itu penting!

[Juara 2 Kompetisi Blog Artikel CONVEY 2020] KEKUATAN NARASI DI TANAH AIR: ZERO INTOLERANCE?
October 25, 2021
Ismatu Ropi, Direktur PPIM Raih Gelar Profesor
November 5, 2021

Hallo semuanya! Perkenalkan nama saya Renol Prabudi zg, saya adalah mahasiswa ilmu  komunikasi di Universitas Malikussaleh. Ini merupakan blog perdana saya yang di publish di  dunia per Blog-an, saya berharap agar semua pembaca tulisan ini agar kiranya bisa memberikan  efek yang baik terhadap pemikiran para pembaca.  

Betapa indahnya hidup saling berdampingan dikala adanya perbedaan besar antar penganut  beragama, namun mengindahkan semua perbedaan tersebut dengan saling menumbuhkan sikap  persaudaraan yang saling mengisi dalam membangun kehidupan yang damai. Ini merupakan  sebuah pemandangan yang sedari dulu telah lestari di bumi Indonesia tercinta ini. Betapa  hebatnya, negara muda pada masanya yang baru saja merdeka di tanggal 17 Agustus 1945,  langsung melahirkan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Tidak hanya itu, luas wilayah yang  hampir menyapu luasan daratan benua Australia ini menghadirkan berbagai keberagaman dan  keberagamaan. Tidak heran jika kita menemukan banyak sekali keanekaragaman hayati dan  non hayati yang berdiam di tanah bak titisan surga ini. Mulai dari beragamnya kelompok etnis,  bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, bahkan agama yang dianut oleh  penduduknya. Berdasarkan data menurut sensus BPS tahun 2010 terdapat 1.340 suku bangsa  di Tanah Air, memiliki 652 bahasa daerah berdasarkan data Badan Pengembangan Pembinaan  Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Dan terdapat 6 agama berbeda yang diakui  secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu,  Buddha dan Konghucu. 

Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Namun tidak menutup kemungkinan  untuk umat minoritas lainnya mendapatkan jaminan menjalankan aktivitas keagamaan yang  bebas dan tanpa adanya tekanan. Namun dalam perjalanannya, masih banyak pihak-pihak dan  oknum-oknum yang menonjolkan perbedaan agama sebagai alasan untuk bertindak radikal dan  diluar nalar. Sehingga membuat perbedaan terasa menyesakkan semua insan. Padahal sudah  ditegaskan dalam untaian kalimat yang dicengkeram oleh garuda sebagai lambang dari filosofi  negara Indonesia yaitu “Bhinneka tunggal ika” yang berarti meskipun berbeda-beda namun  tetaplah satu.  

Bhinneka Tunggal Ika - Wikipedia
sumber: wikipedia.com

Dalam menjalani kehidupan di era sekarang ini, sangatlah penting untuk menumbuh serta mengamalkan sikap moderasi beragama dengan hidup saling bertoleransi antar umat beragama. Berdasarkan tulisan dari buku Moderasi Beragama oleh Kementerian Agama RI menyatakan bahwa moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami  dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda dengan kita. Seperti inilah pengalaman yang  saya miliki dalam mengemban sikap moderasi beragama dengan menjunjung tinggi pribadi nan  bertoleransi. Saat itu saya adalah seorang siswa baru yang menimba sumur ilmu di SMP N 2  Pulau Banyak pada tahun 2014. Normalnya dalam sekolah saya, siswa nya 100% penganut  agama islam. Namun di angkatan saya terdapat hal yang tidak biasanya terjadi, yaitu adanya  seorang siswa baru juga yang seorang penganut agama kristen. Tentu saja momen langka ini  menjadi sorotan oleh seluruh siswa di sekolah, maklum saja karena sebelumnya tidak ada siswa  yang memiliki keyakinan selain agama Islam yang bersekolah disini.  

Bagi saya itu adalah peristiwa yang membuat saya ingin sekali menjalin pertemanan dengannya.  Bukan bermaksud yang tidak-tidak namun hanya ingin mencoba berteman dengan orang yang  berbeda keyakinan dengan saya. Menurut saya ini adalah hal baru dan ingin menjalani  hubungan pertemanan tanpa menindas keyakinan orang lain. Alhamdulillah saya cepat akrab  dengan seseorang yang akrab di panggil Jaya ini, kami banyak bercerita tentang berbagai hal  termasuk soal keyakinan. Saya sangat menghargai perbedaan diantara kami dan bahkan dia selalu mengingatkan saya dikala masuk waktu shalat tiba pada saat kami sedang belajar  bersama di rumahnya. Dia juga seorang teman yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Bahkan pada saat mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, dia lebih memilih untuk tetap dikelas dan  belajar seperti kami yang wajib mempelajarinya juga. Pada saat menulis potongan ayat yang  ada di papan tulis, dia agak kesusahan untuk menulisnya dan memilih untuk pindah ke tempat  saya untuk meminta diajari oleh saya. Tentu saja saya mengajarinya sampai dia berhasil  menyelesaikan potongan ayat terakhir.  

Hari-hari tidaklah selalu baik untuknya, hanya karena perbedaan keyakinan lantas membuat  beberapa teman saya menjadikan keyakinannya sebagai bahan olokan yang mereka pentaskan  untuk ditertawakan. Dia di buly dan disudutkan, bahkan sesekali dia dibentak oleh seorang  anak laki-laki karena kulitnya bersentuhan dalam keadaan berkeringat. Anggapan bahwa kulit  orang yang berasal dari kampung asalnya yang notabene mayoritasnya agama kristen dan  rumor bahwa mereka mengkonsumsi Babi, membuat paradigma buruk terhadap mereka.  Keringat teman saya dianggap najis dan harus di samak, oleh karena itulah dia tidak disenangi  oleh beberapa teman sekelas saya. Saya sangat marah atas perlakuan intoleran mereka dan  melawan mereka dengan menegaskan argumen saya, yaitu “Pantaskah kalian membenci dan  menindas seseorang hanya karena dia memiliki keyakinan yang berbeda dengan kalian?  Apakah dalam agama kita, islam ada petintah untuk menyakiti umat beragama lainnnya? 

Apakah Rasullullah pernah berdakwah kepada dengan kekerasan atau menghakimi agama  yang mereka anut? Tidak kawan, islam itu agama yang damai dan senantiasa memanusiakan  manusia apapun perbedaan yang ada di antara kita. Tidakkah kalian tahu bahwa Allah dan  rasul telah sepakat untuk menghargai keyakinan orang lain dalam surah Al-Kafirun? Bahwa  bagi mereka agama mereka dan bagi kita agama kita. Jangan membenci hanya karena dia  beragama kristen! Bukankah dalam islam kita wajib menjalin ukhuwah atas se-aqidah, se 

bangsa, dan sesama manusia? Bisa jadi saya, kita, dan kalian lebih tidak meyakini agama kita  karena tidak ada iman yang kuat untuk tegar melaksanakan shalat 5 waktu. Dan dia sangat  taat kepada tuhan dan agamanya karena berusaha pulang kampung ke kampung halamannya  setiap hari minggu untuk beribadah di gereja, walau terkadang badai dan cuaca tidak  bersahabat, dia tetap berlayar menggunakan perahu. Jadi kawan-kawanku sekalian,  belajarlah untuk meyakini dan menghargai keyakinan agama orang lain. Sejatinya Indonesia  di perjuangkan oleh pahlawan yang berlatar keyakinan yang berbeda-beda, namun mereka  mengindahkan perbedaan yang ada dan menjadikannya alasan untuk bersatu”. 

Indonesia adalah negara yang majemuk, berbagai keberagaman tampil dan mencolok menjadi  identitas bangsa. Banyak sekali perbedaan yang kita temukan dan tak terkecuali dalam hal  keyakinan. Dalam menjalankan kehidupan yang aman dan damai, perlu di lestarikan budaya toleransi agar tidak menimbulkan sikap diskriminasi. Oleh karena itu, ayo kita ciptakan budaya  toleransi dalam diri kita masing-masing, mari menghargai keyakinan orang lain, mari  menghargai setiap perbedaan yang ada. Ingat! Meskipun kita berbeda namun kita tetap satu.  Indonesia hebat dan Indonesia bersatu dalam perbedaan.  

#MeyakiniMenghargai

Karya: Renol Prabudi Z.G
Dalam Kompetisi Blog Artikel CONVEY 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + 13 =

English