Moderasi Beragama: Mayoritas Menghargai dan Melindungi yang Minoritas

Merawat Budaya Lokal Lewat Tradisi “Bersih Kubur Suroan” di Desa Sokaraja Lor
November 25, 2021
Poster and Comic Competition
December 2, 2021
Sumber: Jalandamai.org

Dewasa ini, perkembangan paham yang terkesan menyimpang dan hanya berlandaskan rasa/ujaran kebencian terhadap agama lain dengan cara membandingkan-bandingkan, mencaci maki dan menghina ajaran agama lain kini masif semakin dilakukan oleh sebagian golongan.

Selain itu isu terorisme dan radikalisme. Adapula kasus ektremisme yang kini kian marak menunjukkan taringnya. Banyak media yang telah memberitakan hal demikan. Sepertai kasus di SMKN Padang dimana Waka Kesiswaan mewajibkan semua siswanya untuk memakai hijab, termasuk pula siswa non-muslim (Tribun Jateng, 22/01/2021)

Melihat fenomena tersebut, penulis yang juga merupakan seorang pendidik di salah satu madrasah menjadi sedikit takut akan fenomena yang terjadi dikalangan pelajar dalam lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan yang harusnya menjadi wahana siswa untuk menggali informasi, wawasan, pengetahuan, dan membentuk karakter siswa yang plural. Kini, oleh sebagian oknum yang memang tak suka akan NKRI, malah dijadikan sebagai tempat mendoktrin siswa menjadi sosok yang berpemahaman radikalis.

Hal ini dalam sudut pandang penulis hanyalah untuk mencapai ambisi politik tertentu. Dan kesemua gerakan radikalis dan ekstremis ini sering membawa nama Al-Qur’an, ajaran agama dan Tuhan pun ikut diseret dalam lingkaran paham menyimpang mereka,yang hanya bertujuan untuk menggaet simpati publik.

Ironisnya lagi gerakan radikalisme tak hanya digaungkan dengan sebatas dari telinga ke telinga. Para oknum penyebar isu radikalis dan kebencian ini menyebarkan paham mereka lewat media sosial, yang memang memiliki jangkauan yang luas dan tentunya masf untuk dimanfaatkan.

Selain menyasar masyarakat umum, gerakan radikalis juga masif disebarkan lewat lembaga pendidikan. Maka, peran guru dalam menyeimbangkan karakter dalam bingkai moderasi beragama sangatlah krusial keberadaanya.

LaKIP Jakarta pada 2010-2011 menemukan  49  siswa  di  Jabodetabek setuju dengan aksi radikalisme demi agama. Penelitian BIN pada 2017 menemukan 24 persen mahasiswa, 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan tegaknya negara Islam. Sebuah yayasan pendidikan di Kabupaten Semarang pada 2016 memecat 13 guru karena mengajarkan faham radikal (Ma’arif, 2020). (Ardyansyah, 2021)

Mereka seringkali memaksakan standar beragama mereka kepada penduduk yang berbeda keyakinan,yang memang kodratnya terbentuk atas keragaman dalam hal suku, ras dan agama. Namun hal yang menarik untuk diperbincangkan adalah penerapan konsep khilafah yang digaungkan oleh beberapa pihak untuk diterapkan di Indonesia.

Terkhusus pula gerakan mereka juga menyasar dalam lembaga pendidikan seperti guru, sebagai lokomotor pencetak generasi bangsa yang tak memang tak cuma fanatik akan agama. Namun, juga cinta akan bangsa karena sesungguhnya cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Islam washatiyah ala NU

Kita mengetahui bahwasannya, Indonesia merupakan negara demokrasi dimana falsafah bangsa bersumber dari pancasila dan konsep berbangsa dan bernegara sesuai dengan UUD 1945.

Dua rumusan tersebut tidak secara instan dicetuskan oleh para pendiri bangsa. Akan tetapi melalui proses panjang yang tak hanya dilakukan secara lahir tetapi lewat secara batin.

Selain itu moderasi beragama pula telah diimplementasikan Nahdhatul Ulama dengan terbitnya resolusi jihad NU atas prakarsa KH Hasyim Asy’ari. Lewat prakarsa ini pula sang muassis Nahdhatul Ulama tersebut mengeluarkan fatwa bahwasannya membela/cinta tanah air sebagian daripada iman.

Tentunya cinta tanah air tak hanya sebatas mencintai satu golongan. Melainkan itu, pastinya cinta keseluruhan apa yang ada di tanah air terutama keragaman sukum ras, agama ataupun budaya.

Lewat lembaga pendidikan semacam pesantren inilah, NU mencetak kader-kader insani, islami dan juga toleran terhadap pemeluk agama yang berkeyakinan lain. Hal ini pernah diungkapkan oleh Gus Yaqut selaku menteri agama.

Dan itu sifat NU itu di mana-mana ingin melindungi yang kecil. Jadi kalau sekarang Kementerian Agama menjadi kementerian semua agama, itu bukan menghilangkan ke-NU-an, tapi justru menegaskan ke-NU-annya. NU itu terkenal paling toleran, terkenal paling moderat,” (Pikiran Rakyat, 2021)

GLM dalam meningkatan islam washatiyah

Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang telah digelorakan oleh pemerintah sejak tahun 2015. GLN tak hanya berfokus pada hal-hal literasi dan numerasi saja. Lebih daripada itu, GLN juga bertumpu pada penumbuhan dan pengembangan budi pekerti dengan spirit kebudayaan, kewargaan atau nasionalisme.

Kesemua hal itu kini terus dikembangkan juga oleh Gerakan Literasi Ma’arif (GLM), yang bertujuan selain melatih hal-hal berbau literasi dan numerasi, juga bertumpu pada aspek peningkatan moderasi beragama di lembaga pendidikan Ma’arif NU.

Sementara  tujuan  khusus GLM  yaitu, penguatan ideologi dan karakter Aswaja Annahdliyah lewat literasi, pembudayaan tradisi-tradisi Islam Nusantara lewat kegiatan literasi, penguatan budaya literasi lama dan literasi baru, menumbuhkembangkan keterampilan literasi pelajar agar terhindar dari hoaks dan radikalisme, dan menumbuhkembangkan budaya tabayun (klarifikasi) pada pelajar dalam ekosistem sekolah dan madrasah Ma’arif (Hamidulloh Ibda, Aji Sofanuddin, 2021).

Ahlussunnah waljama’ah annahdliyah sebagai ideologi warga Nahdliyin memang harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terkhusus pula peserta didik dilembaga pendidikan manapun, khususnya yayasan Ma’arif NU.

Hal ini dapat menjadi sumber pembentukan karakter yang kaya akan nilai-nilai ukhuwah “persaudaraan” antar beragam golongan yang ada, moderat dalam menyikapi isu yang berkembang   ditengah-tengan keragaman dan terus menggelorakan dan Plural akan perbedaan dalam suatu masyarakat.

Selain itu dalam perspektif penulis, moderasi beragama bukan hanya menghargai pemeluk agama lain. Lebih daripada itu, sebagai kaum mayoritas justrulah ummat islam harus melindungi ummat yang memang minoritas di bumi Indonesia!.

Bukankah itulah kesejatian dalam kehidupan moderasi beragama? #MeyakiniMenghargai

Referensi:
Jurnal                 
Hamidulloh Ibda, Aji Sofanudin, Progam Gerakan Literasi Ma’arif Dalam Meningkatkan Moderasi Beragama, Tatar Pasundan, Jurnal Diklat Keagamaan.(2021) Vol. 15, No. 2.

Website
1. Kemenag. Go.id “Gus Yaqut Tegaskan Kemenag Untuk Semua Agma”. https://kemenag.go.id/read/gus-yaqut-tegaskan-kemenag-milik-semua-agama-m7j8d
2. Uii.ac.id “ Realisasi Moderasi Beragama di Ranah Pendidikan” ttps://www.uii.ac.id/realisasi-moderasi-beragama-di-ranah-pendidikan/  Tribun Jateng https://jateng.tribunnews.com/2021/01/22/zikri-waka-kesiswaan-smkn-ngotot-semua-siswi-wajib-pakai-jilbab-termasuk-non-muslim-videonya-viral

Penulis: Hilal Mulki Putra
Juara 3 CONVEY Article Competition

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × two =

English