Profesor UIN Jakarta: Medsos, Arena Perang Dunia di Masa Depan

Sekum Muhammadiyah: Covid-19 Bukan Tahayul atau Konspirasi
July 29, 2021
Gubernur Jawa Timur: Pendidikan sebagai Sektor Penting Penanggulangan Covid-19
August 23, 2021

Gambar: Abdul Mu’ti/Webinar Moderasi Beragama Series 22 “Beragama di Masa Pandemi”

Jakarta, PPIM – “Perang dunia masa depan adalah media sosial” demikian ungkap Abdul Mu’ti, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Webinar Moderasi Beragama Series ke-22 dengan tema “Beragama di Masa Pandemi” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia, Jumat (23/7).

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kekuatan media sosial menjadi ruang pertarungan baru. Kelompok konservatisme lebih mudah menggiring opini melalui media sosial. Apalagi dengan generasi milenial sekarang yang sangat percaya dan menanyakan apapun ke sosial media yang mungkin tidak sepenuhnya benar. Oleh karena itu, perang dunia masa depan bukan lagi perang bagaimana tentara membawa senjata, peran senjata itu adalah perang media sosial yang sekarang terjadi. Tanpa kita sadari mobilitas fisik menjadi terbatas sedangkan mobilitas di media sosial tidak bisa dibendung. Hal ini yang perlu diperhatikan.

“Ini sebenarnya memberikan keuntungan bagi “kelompok-kelompok tertentu” yang mereka ini tidak punya lembaga sosial, tidak punya jaringan sosial, tetapi mereka bisa tampil luar biasa karena memanfaatkan keterbukaan dan kebebasan akses informasi.” Ungkap Sekretaris Umum PP Muhammadiyah tersebut.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kelompok tertentu tersebut dapat membuat konten yang lebih kreatif, menarik, dan mudah dipahami. Mereka juga melakukan upaya penetrasi walaupun tidak melalui buzzer. Karena itu banyak sekali berita yang simpang siur dan tidak bisa dijamin kredibilitasnya. Karena itulah, kelompok yang moderat dan progresif ini tidak bisa melakukan gerakan.

Menurut beliau ini masalah yang sangat serius apalagi dalam generasi milenial. Karena ada 3 (tiga) hal yaitu pertama; anak muda secara keberagamaan relatif longgar, artinya dalam 2 (dua) perngertian, (1) mereka tidak menjadikan agama sebagai really serious business dan (2) tidak terlalu fanatik terhadap satu paham agama tertentu. Kedua; anak muda lebih menjadi native user sosial media, dan ketiga; menurut psikologis anak generasi milenial adalah kelompok yang suka dengan hal baru yang menjadi bagian dari challenge tradition yang cenderung mencoba sesuatu yang baru.

Maka solusi dari permasalahan tersebut adalah bagaimana ruang publik diisi dengan informasi yang bisa memberikan alternatif. Oleh karena itu, adanya peran pembimbing sangat perlu dan kehadiran orang tua, pendidik, guru, dan para tokoh agama untuk memastikan bahwa keberagamaan mereka tetap dapat dipandu dan difasilitasi ke arah yang lebih progresif, kehidupan yang lebih aman, dan kemajuan. 

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jum’at melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta” dan “Convey Indonesia”. Dalam kesempatan kali ini, Abdul Mu’ti didampingi oleh Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, sebagai moderator.

Penulis: Rizki Ciptaningsih
Editor: M. Nida Fadlan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − ten =

English